Tuesday, 5 January 2016

Maha Parinibbana Sutta (D.II.16)

 MAHA PARINIBBANA SUTTA (D.II.16)

Dibabarkan : Sang Buddha kpd Patih Vassakara di bukit Gijjhakutta, Rajagaha.
Berkenaan: Perintah raja Ajjattasatu kpd patih Vassakara untuk meminta nasehat SB sebelum berperang melawan Suku Vaji.

Intinya : Sang Buddha memberikan Khotbah ttg beberapa aspek yg paling mendasar dan penting dalam ajaran Sang Buddha yaitu :

a.   Tujuh Syarat Kesejahteraan Suatu Bangsa :
1)  Sering berkumpul mengadakan musyawarah.
2)  Dalam musyawarah selalu menganjurkan perdamaian.
3)  Menetapkan peraturan baru dan meneruskan peraturan yg lama.
4)  Menunjukkan rasa hormat dan bakti kpd orang yg lebih tua.
5)  Melarang keras adanya penculikan-penculikan terhadap wanita-wanita dari keluarga
6)  Menghormati tempat-tempat suci
7)  Menghormati orang-orang yg patut dianggap suci
b.   Tujuh Syarat Kesejahteraan Bagi Para Bhikkhu :
1)  Sering berkumpul dan bermusyawarah untuk mencapai mufakat.
2)  Dalam pertemuan itu selalu menganjurkan persatuan dan kesatuan serta perdamaian.
3)  Tidak menetapkan peraturan baru dan menghapus peraturan lama.
4)  Selalu berbuat sesuai Vinaya.
5)   Menghormati dan berbakti kepada Bhikkhu yg lebih tua.
6)  Menyenangi hutan sbg tempat tinggal yg lebih tenang.
7)  Mengembangkan pikiran yg baik dengan rekan sepenghidupan


c.    Tujuh Sifat Baik :
1)  Keyakinan.
2)  Rasa malu untuk berbuat jahat.
3)  Rasa takut akan akibat dari perbuatan jahat.
4)  Banyak pengetahuan.
5)  Keteguhan batin.
6)  Perhatian yg kuat.
7)  Kebijaksanaan.
d.   Nasehat Sang Buddha kepada Para Bhikkhu
Sang Buddha memberi nasehat tentang Sila, Samadhi dan Panna. Besar pahala dan kemajuan bila meditasi dikembangkan berdasarkan sila yang baik. Besar sekali pahala dan kemajuan bila panna dikembangkan berdasarkan meditasi yang baik. Batin yang dikembangkan berdasarkan kebiksanaan yang baik akan bebas dari kekotoran batin (nafsu indera, nafsu untuk menjadi dan pandangan salah)
e.    Tujuh macam persepsi :
1)  Memiliki pengertian ttg ketidak kekalan (Anicca).
2)  Mengembangkan pengertian ttg ketanpa akuan (Anatta).
3)  Mengembangkan pengertian ttg ketidak indahan tubuh.
4)   Mengembangkan penghapusan pandang.
5)   Mengembangkan penghentian kekotoran batin.
6)   Mengembangkan penghentian nafsu.
7)  Mengembangkan penghentian Dukkha.
f.      Enam Syarat Yg Harus Diingat :
1)  Saling mengasihi dan menyayangi dalam perbuatan.
2)  Saling mengasihi dan menyaygi dalam ucapan.
3)  Saling mengasihi dan menyaygi dalam pikiran.
4)  Membagi perolehan dengan adil.
5)  Melaksanakan kehidupan suci dengan sila yg tidak dilanggar/tidak ternoda.
6)  Mengembangkan pandangan benar untuk melenyapkan penderitaan.
g.   Tujuh Faktor Penerangan Sejati (Bhojanga) :
1)  Perhatian (Sati)
2)   Penyelidikan Dhamma (Dhamma vicaya)
3)  Bersemangat (Viriya)
4)  Keriaan dalam meditasi (Piti)
5)  Ketenangan (passsadhi)
6)  Meditasi (Samadhi)
7)  Keseimbangan batin (Upekkha)
h.   Raungan Singa Sariputta.

Ucapan yang lantang bagaikan raungan singa oleh bhikkhu Sariputta tentang keyakinan kepada Sang Bhagava yg sungguh tiada bandingnya. Bhikkhu Sariputta belum pernah menemukan baik dulu maupun sekarang ada seorang brahmana atau orang lain yang lebih percaya dalam penerangan sempurna dibandingkan dengan Sang Bhagava sendiri.
Sang Buddha di Pataligama memberikan nasehat kepada Saudara-saudara yang berumahtangga tentang lima bahaya dari tindakan tidak susila dan membawa kemerosotan moral
1.   Kehilangan sebagian besar kekayaan
2.   Perbuatan mereka yang tidak baik
3.    Perbuatan mereka memalukan dan menyusahkan masyarakat
4.   Mereka akan meninggal dunia dalam kebingungan
5.   Terlahir kembali di alam penderitaan

i.      Kesunyataan Mulia (Ariya Sacca)
1)  Dukkha Ariya Sacca (kesunyataan mulia ttg Dukkha).
2)  Dukkha Samudaya Ariya Sacca (kesunyataan mulia ttg sebab dari Dukkha).
3)  Dukkha Niroda Ariya Sacca (kesunyataan mulia ttg lenyapnya Dukkha).
4)  Dukkha Niroda Gamini patipada Ariya sacca (kesunyataan mulia ttg jalan menuju lenyapnya Dukkha) yaitu jalan tengah yg beruas delapan, yaitu :
a)         Samma Ditthi         : Pandangan Benar
b)        Samma Sankhappa : Pikiran Benar
c)         Samma Vaca           : Ucapan Benar
d)         The Kamantha yang sama: pebuatan Bones
e)         Samma Ajiva          : Mata Pencaharian Benar
f)          Samma Vayama     : Usaha Benar
g)        Samma Sati             : Perhatian Benar
h)         Samma Samadhi: Samadhi Benar
j.     Delapan sebab Gempa bumi.
1)  Bumi yg luas terbentuk dari zat cair, zat cair terbentuk dari udara dan udara ada diangkasa. Apabila udara bertiup maka zat cair tergoncang. Kegoncangan zat cair ini menyebabkan bumi bergetar. (terbentuknya bumi/dunia)
2)  Apabila seorang pertapa mempunyai kekuatan batin yg besar, seseorang yg telah memperoleh kekuatan untuk mengendalikan pikirannya, mengembangkan pemusatan pikiran yg hebat pada unsur bumi, dan pada suatu tingkatan yg tak terbatas pada unsur Zat cair, ia juga dapat menyebabkan bumi bergetar.
3)  Ketika Bodhisattva meninggalkan surga tusita & lahir melalui rahim seorang ibu yg penuh pengertian dan perhatian besar.
4)  Ketika sang Bodhisattva lahir.
5)  Ketika Bodhisattva mencapai kesempurnaan, yg maha sempurna, tak ada yg meyamainya dan sungguh luar biasa kesempurnaannya.
6)  Ketika SB memutar Dhamma cakka (Roda Dhamma)
7)  Ketika SB bertekad meneruskan hidupnya.
8)  Ketika SB Maha parinibbana.


k.   Permohonan Mara.

Mara memohon kepada SB agar segera mengakhiri hidupnya. SB menjawab: "sebelum para Bhikkhu / Bhikkhuni / Upasaka / upasika menjadi siswa-siswa Ku yg benar-benar bijaksana dalam menerapkan peraturan yg benar-benar, cakap, terpelajar, memelihara Dhamma, hidup sesuai Dhamma, berpegang teguh pada pimpinan yg telah ditetapkan, telah mempelajari kata-kata Sang Guru, dapat menjelaskan, mengkhotbahkannya, mengumumkannya, menyusun, mengartikannya, menjelaskan secara seksama, membuatnya menjadi jalas, dapat memberikan penjelasan secara sempurna sehingga menimbulkan keyakinan pada setiap orang bahwa Dhamma dapat membawa kebebasan terakhir / Nibbana.

Mara: Pembawa kematian., Nafsu, godaan, kebiasaan buruk / sifat yg jahat.
Lima macam mara : Pancakhanda, Aktivitas kamma, Kematian, Kekotoran batin, Makhluk yg menyerupai dewa.

Pasukan mara terdiri dari :
1.   Nafsu Indera           6. Sifat pengecut
2.   Ketidakpuasan                7. Ketidakpastian
3.   Kelaparan               8. Sifat keras kepala
4.   Nafsu Keinginan     9. Dapat pujian yg sebenarnya tak diperoleh
5.   Mengantuk              10. Memuji diri sendiri, menjelekkan orang

l.      Delapan Kebebasan

1.   Ia melihat badan jasmani (rupa) sebagai jasmani (rupa)
2.   Ia menyadari tanpa jasmani (arupa) di dalam diri, ia melihat jasmani (rupa) di luar
3.   Berpikir “itu indah” ia menjadi teguh
4.    Dengan melampui semua pencerapan jasmani, semua pencerapan ketidaksenangan mengalihkan perhatian dari bermacam-macam pencerapan, berpikir "Ruangan tanpa batas", mencapai "alam Ruang tanpa batas (Akasanancayatana)
5.   Dengan melampui “alam ruang tanpa batas” berpikir “kesadaran tanpa batas” mencapai alam kesadaran tanpa batas (Vinnanancayatana)
6.   Dengan melampui ‘Alam kesadaran tanpa batas” berpikir “tidak ada seseuatu” mencapai alam kekosongan (Akincannayatana)
7.    Dengan melampui 'alam kekosongan' berpikir "Bukan pencerapan dan tidak bukan pencerapan" mencapai "alam Bukan pencerapan dan tidak bukan pencerapan" (Neva Sanna nasannayatana)
8.    Dengan melampui Alam bukan pencerapan dan bukan tidak pencerapan "mencapai kondisi Lenyapnya Perasaan dan pencerapan '(Sanna vedayita nirodha)
.
m.      Nasehat Sang Buddha.

“Dhamma merpakan pengetahuan langsung yg telah kuajarkan untuk dipelajari benar-benar, dipelihara benar-benar, dikembangkan serta dipraktekkan Dhamma secara berulang-ulang”.  
Dhamma yang telah kuajarkan;
1.   Empat Usaha benar
2.   Empat dasar kekuatan
3.   Lima bakat batin
4.   Enam Kekuatan
5.   Tujuh faktor penerangan sejati
6.   Jalan mulia berunsur delapan

Dhamma yg telah kuajarkan:
1)  Empat Usaha benar.
a)    Usaha yg rajin agar kondisi yg jahat dan buruk tidak timbul pada diri seseorang.
b)   Usaha yg rajin menghilangkan kondisi-kondisi yg jahat dan buruk yg telah timbul pada diri seseorang.
c)   Usaha yg rajin menimbulkan keadaan-keadaan yg baik pada diri seseorang.
d)  Usaha yg rajin menjaga keadaan-keadaan yg baik yg telah timbul dan tidak membiarkan lenyap.
2)  Empat Dasar Kekuatan Batin.
a)   Kesadaran pada penyelidikan terhadap badan jasmani (kayanupassana).
b)  Kesadaran pada penyelidikan terhadap perasaan (Vedananupassana).
c)   Kesadaran pada penyelidikan terhadap Pikiran (Cittanupassana).
d)  Kesadaran pada penyelidikan terhadap Kesan-kesan pikiran (Dhammanupassana).

3)  Lima Bakat Batin.

a)   Mempunyai bakat/keahlian dalam pemikiran akan memasuki jhana.
b)  Mempunyai bakat/keahlian dalam memasuki jhana.
c)   Mempunyai bakat/keahlian dalam menentukan waktu berapa lama hendak berada dalam jhana.
d)  Mempunyai bakat/keahlian dalam pemikiran akan keluar dari jhana.
e)   Mempunyai bakat/keahlian dalam peninjauan jhana.

n.   Enam Kekuatan Batin.

a)   Kemampuan untuk mengingat kelahiran yg lampau.
b)  Kemampuan untuk melihat alam-alam lain dan kesanggupan melihat muncul dan lenyapnya makhluk-makhluk yg bertumimbal lahir sesuai dengan Kammanya masing-masing.
c)   Kemampuan untuk membasmi kekotoran batin.
d)  Kemampuan untuk membaca pikiran orang lain.
e)   Kemampuan untuk mendengar suara-suara dari makhluk-makhluk yg berada dialam lain.
f)    Kekuatan magis.

o.   Cermin Kebenaran.

Lb : Adanya kerisauan Bhikkhu Ananda yg kemudian menanyakan kepada SB bahwa setiap makhluk harus mengalami kematian.
Isi : SB menganjurkan kepada para Siswa agar memiliki keyakinan yg tidak tergoyahkan pada kebenaran/sifat-sifat luhur dari Sang Buddha, Dhamma, dan Sangha.
Cermin kebenaran adalah sbg suatu sarana untuk melihat kebenaran yg hakiki sehingga seseorang melalui pandangan benar dapat melihat hidup ini dengan sewajarnya. SB memberikan khotbah Cermin kebenaran ini bertujuan agar para siswa dapat mawas diri

p.   Empat  Tempat Ziarah (Dharmayatra).

1)   Tempat lahir Sidhatta Gotama (Lumbini).
2)  Tempat pertapa Gotama mencapaia penerangan sempurna dan menjadi Buddha (Bodh Gaya).
3)  Tempat dimana SB memutar Roda Dhamma (Dhammacakka) di Taman Rusa Isipatana, Baranasi.
4)  Tempat SB mencapai Maha Parinibbana (di Kusinara)

q.   Cara Menghormat Badan Wadaq/Jenasah/Jasad Dari Sang Buddha

1)  Membungkus dengan 500 balutan kain linen.
2)  Membungkus dengan 500 balutan kain wol.
3)  Menempatkan jenasah yg sudah dibalut kedalam sebuah peti pembuluk yg dicat Meni.
4)  Menempatkan jenasah diatas tempat pembakaran jenasah yg dibangun dengan beraneka macam kayu wangi/cendana.
5)  Membangun stupa bekas tempat pembakaran jenasah/badan wadaq Sang Buddha.

P.  (Empat) Pencapaian Istimewa.
1)   Bhikkhu Salha dapat melenyapkan kekotoran batin selama hidupnya dan mendapatkan kebebasan batin melalui kebijaksanaan.
2)  Bhikkhu Nanda dapat menghancurkan 5 belenggu yg rendah dan menghancurkan keinginan untuk hidup di alam dewa dan tak akan terlahir lagi didunia. Juga Upasaka Sudatta mampu menghancurkan 3 belenggu dan menjadi seseorang yg akan dilahirkan sekali lagi.
3)  Upasika Sujata dapat menghancurkan 3 belenggu yg rendah dan menghancurkan keinginan untuk hidup di alam dewa dan tak akan terlahir lagi didunia.
4)  Upasaka Kakhuda dapat menghancurkan 5 belenggu yg rendah dan menghancurkan keinginan untuk hidup di alam dewa dan tak akan terlahir lagi didunia.

q.   Santapan Terakhir Dari Sang Buddha

Ada dua macam makanan yg mempunyai pahala dan nilai kebaikan sama yg melebihi nilai dari semua dana makanan yg lainnya :
1)  Dana makanan yg pertama kali dipersembahkan  oleh SB setelah mencapai penerangan sempurna.
2)  Dana makanan yg terakhir kali dipersembahkan  oleh SB sebelum Maha Parinibbana (sukkharamandava = jamur atau rebung persembahan dari Cunda)
Pahala / kebajikannya yaitu:
1.   Mempunyai kesejahteraan
2.   Panjang umur
3.   Rupawan
4.   Kemuliaan
5.   Terlahir di alam surga

r.    Nasehat Terakhir Dari SB.
1)   Apabila diperlukan, Sangha dapat menghapus peraturan kecil (Khuddaka Sikkhapada).
2)   Kenakanlah hukuman Brahmadanda ke Chana setelah SB Maha Parinibbana.
-        Chana mendapat hukuman B bahwa Channa merasa berperan pada pelepasan Agung (Mahabhiniskrama) dan Chana merasa paling dekat dengan SB.
-         Brahmadanda = Bhikkhu Channa bisa berbicara apa saja yg diinginkannya kepada para Bhikkhu, sedangkan para Bhikkhu lain tidak dapat berbicara, menegur atau memperingatkannya.
3)   Segala sesuatu adalah tidak kekal berusahalah dengan sungguh-sungguh (Vaya dhamma sankhara appamadena sampadeta).

S.   Sikap Bhikkhu terhadap wanita.
1)  Jangan memandang wanita.
2)  Bila berbicara dengan wanita selalu sadar terus dan memusatkan pikiran.

T.  Tahapan memasuki Parinibbana.
1)   SB memasuki kondisi penghentian, pencerapan dan perasaan.
2)   SB memasuki kondisi bukan pencerapan maupun tidak bukan pencerapan.
3)  SB memasuki keadaan kekosongan.
4)  SB memasuki keadaan kesadaran tak terbatas.
5)  SB memasuki keadaan ruangan tak terbatas.
6)  SB memasuki Jhana ke-4
7)  SB memasuki Jhana ke-3.
8)  SB memasuki Jhana ke-2.
9)  SB memasuki Jhana ke-1
10)              SB memasuki Jhana ke-2.
11)              SB memasuki Jhana ke-3.
12)              SB memasuki Jhana ke-4.
13)              SB memasuki keadaan ruangan tak terbatas.
14)              SB memasuki keadaan kesadaran tak terbatas.
15)              SB memasuki keadaan kekosongan.
16)               SB memasuki kondisi bukan pencerapan maupun tidak bukan pencerapan.
17)               SB memasuki kondisi penghentian, pencerapan dan perasaan.

U. Pembagian Sisa Jasad Sang Buddha (dibagi oleh Brahmana Dona)

1.   Raja Ajjatasatu (Magadha)
2.    Suku Licchavi (Vesali)
3.   Suku Sakya (Kapilavattu)
4.   Suku Boli (Alakapa)
5.    Suku Koliya (Ramagama)
6.   Kaum Brahmana (Vetthadipa)
7.   Kaum Malla (Pava)

8.   Suku Malla (Kusinara)

Perkembangan Pendidikan Agama Buddha Dalam Pendidikan Formal Di Indonesia





PERKEMBANGAN PENDIDIKAN AGAMA BUDDHA DALAM PENDIDIKAN FORMAL DI INDONESIA
Disusun Guna Memenuhi Salah Satu Tugas Individu
Sutta Thematik

Dosen Pengampu :
KABRI NYANAKARUNO,S.Ag.,M.Pd.,M.Pd.B
Disusun oleh :
SLAMET SUSILO
Nim: 1408211176






SEKOLAH TINGGI ILMU AGAMA BUDDHA
(STIAB) “SMARATUNGGA”
AMPEL-BOYOLALI
2015









KATA PENGANTAR


Namo Sanghyang Adi Buddhaya
Namo Buddhaya
Penulis mengucapkan puji syukur kepada Sanghyang Adi Buddha, para Buddha, Bodhisatva, Mahasatva yang telah melimpahkan berkah dan perlindungan sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Perkembangan Pendidikan Agama Buddha Dalam Pendidikan Formal di indonesia” sebagai salah satu tugas kelompok dalam Mata Kuliah Vinaya Thematik.
Penyusunan makalah ini tidak lepas dari bantuan  berbagai pihak. Sebagai ungkapan rasa syukur maka penulis mengucakan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu memberikan petunjuk dan bimbingan serta motivasi demi terselesaikannya makalah ini. Dengan penuh rasa hormat dan ketulusan hati, penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1.     Kabri Nyanakaruno,S.Ag.,M.Pd.,M.Pd.B selaku Dosen Pengampu yang telah memberikan bimbingan dan arahannya.
2.     Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Agama Buddha Smaratungga.
3.     Rekan-rekan Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Agama Buddha Smaratungga.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan dan kesalahan baik disengaja maupun tidak disengaja serta dalam penulisan yang jauh dari kesempurnaan, karena keterbatasan kemampuan yang penulis miliki. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca yang bersifat membangun demi perkembangan makalah selanjutnya. Semoga makalah ini dapat berguna bagi penulis pada khususnya dan para pembaca pada umumnya.
Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta
Saddhu…Saddhu…Saddhu




DAFTAR ISI


HALAMAN JUDUL.......................................................................................... i
KATA PENGANTAR........................................................................................ ii
DAFTAR ISI    .................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN
            A. Latar Belakang .................................................................................    
BAB II PEMBAHASAN
A.     Pengertian  pendidikan dan faktor pendidikan................................
B.     Faktor Pendidikan............................................................................
C.     Masalah Pendidikan.........................................................................
D.    Pendidikan Di Indonesia..................................................................
E.      Perkambangan Pendidikan budhis ................................................
F.      Kendala pendidikan buddhis...........................................................
BAB III PENUTUP
A.     Kesimpulan......................................................................................
B.     Saran   .............................................................................................
                  











BAB I

PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang
Pendidikan adalah penerusan nilai, pengetahuan, kemampuan, sikap, dan tingkah laku. dalam arti luas, pendidika merupakan hidup itu sendiri (belajar seumur hidup), sebagai proses menyingkirkan kebodohan dan mendewasakan diri menuju kesempurnaan. Pendidikan bagi kehidupan manusia merupakan kebutuhan mutlak yang harus dipenuhi sepanjang hayat. Untuk memajukan kehidupan mereka maka pendidikan menjadi sarana utama yang perlu dikelola secara sistematis dan konsisten berdasarkan berbagai pandangan teoretikal dan praktikal sepanjang waktu sesuai dengan lingkungan hidup manusia tesebut.
Pendidikan dalam agama Buddha dapat dikaitkan bersifat pragmatis menyangkut pemecahan masalah untuk mencapai tujuan hidup manusia. pendidikan budhis yang terdapat di indonesia kurang dapat berkembang dengan baik karena beberapa faktor, umat yang beragama buddha hampir selalu ‘menantang’ orang yang bergerak di bidang pendidikan untuk menyelenggarakan sekolah yang sekelas dengan sekolah yang unggulan yag dikelola oleh agama tertentu. Sehingga untuk masuk dan dapat di terima di sekolah tersebut harus membutuhkan pengorbanan baik dari sianak maupun dari orangtua sehingga jika diterima akan merasa dirinya masuk sekolah ‘elit’ yang lebih hebat dari saudara-saudaranya yang beragama Buddha apalagi sekolah negeri pada umumnya. Walaupun pengetahuan yang dimiliknya belum tentu lebih baik dari yang lain, sebaliknya kepala sekolah yang bercirikan buddha harus mencari kiat dan terobosan baru untuk mendapatkan siswa.
Apa yang salah dengan sekolah yang bercirikan buddhis sehingga mereka hanya menjadi pilihan terahir. Secara penampilan sekolah unggulan memang lebih menarik dari pada sekolah yang dimiliki oleh umat buddha. Sekolah budhis yang ada terkesan masing-masin berjalan sendiri, dan belum terlihat kerjasama yang erat. Walaupun telah ada instansi tersendiri yang mengurus kerjasama antar sekolah. Image sekolah yang belum populer menjadikan sekolah budhis kurang dikenal masyarakat, namun masih banyak kendala dalam peningkatan penyelenggaraan pendidikan budhis saat ini.
 Perkembangan pendidikan budhis sangat di pengaruhi oleh peserta didik dan peran lembaga dan guru terkait. Pada era otonomi saat ini, lembaga penyelenggara pendidikan di beri ruang gerak untuk mengembakan kurikulum yang ada hal ini memberi kesempatan lembaga-lmbaga penyelenggara pendidikan untuk mengoptimalkan seluruh potensi untuk mewujudkan tujuan/sasaran yang ingin di capai. Agar dapat menciptakan penyelenggaraan pendidikan budhis yang benar-benar nyata dan membuat citra pendidikan budhis dikenal di mata umum. Pendidikan budhis yang merupakan bagian dari pendidikan formal memberi sumbangan dalam pendidikan khususnya bagi peserta didik yang beragama buddha.



















BAB II

PEMBAHASAN

A.    PENGERTIAN PENDIDIKAN
a)      Pengertian pendidikan secara umum
Dalam kajian dan pemikiran tentang pemikiran pendidikan terlebih dahulu perlu diketahui 2 istilah yang hampir sama bentuknya dan sering dipergunakan dalam dunia pendidikan yaitu: pedagogi dan pedagoik. Pedagogi artiya “pendidikan sedangkan pedagoie artinya “ilmu pendidikan”. Driyarkara mengatakan bahwa : pendidikan adalah upaya memanusiakan manusia muda. Pengangkatan manusia ke taraf insani itulah yang disebut mendidik.Crow and crow menyebutkan pendidikan adalah proses yang berisi berbagai macam kegiatan yang cocok bagi individuuntuk kehidupan sosialnya dan membantu  meneruskan adat dan budaya serta kelembagaan sosial dari generasi ke generasi (Suprapto, 1975).
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (UUSPN, 2003). Kihajar dewaantara pada tahun 1930 menyebutkan pendidikan daya upaya untuk memajukan bertumbuhanya budi pekerti. Sebagai proses pembentukan pribadi, pendidikan diartikan suatu kegiatan sistematis dan sistemik terarah terbentuknya kepribadian peserta didik. Karena proses pendidikan berlagsung  secara sistematis proses pendidikan berlangsung, melalui tahap-tahap bersinambungan(prosedurnya) dan sistemik. Pendidikan. Bagi kita warga negara tujuan pendidikan memuat gambarantentang nilai nilai yang baik, luhur, pantas, benar, dan indah untuk kehidupan.



B.     Faktor Pendidikan
Dalam aktivitas pendidikan terdapat enam faktor yang mendukung pendidikan yang dapat membentuk pola interaksi yang saling mempengaruhi keenam faktor tersebut adalah:
1)      Faktor tujuan
Dalam praktek pndidikan, baik dilingkungan keluarga, di sekolah maupun di masyarakat luas, banyak sekali tujuan pendidikan yang diinginkan oleh pendidik agar dapat dicapai (dimiliki) oleh peserta didiknya. Menurut langeveld dalam bukunya beknopte teorische pedagogik diadanya macam-macam tujuan sebagai berikut:
a.       Tujuan umum
b.      Tujuan tak sempurna(tak lengkap)
c.       Tujuan sementara
d.      Tujuan perantara
e.       Tujuan insidental

   2)      Faktor pendidik
Pendidik dibedakan menjadi kategori ialah:
a.       Pendidik menurut kodrat yaitu orangtua dan
b.      Pendidik menurut jabatan yaitu guru.

Orangtua sebagai pendidik utama karena secara kodrat anak manusia dilahirkan oleh orangtuanya (ibunya) dalam keadaan tak berdaya. Hanya dengan pertolongan dan layanan orangtua dapat hidup dan berkembang. Hubungan antara oragtua dan anaknya adalah hubungan edukatif, mengandung dua unsur dasar yaitu unsur kasih sayang pendidik terhadap anak, dan unsur kesadaran dan tanggug jawab dari pendidik untuk menuntun perkembangan anak.
Pendidik kedua adalah guru, guru sebagai pendidik menurut jabatan, guru mampu memberikan pendidikan dan pengajaran sesuai dengan perkembagan peserta didik.

3)      Faktor peserta didik
Peserta didik adalah subjek didik individu yang memiliki potensi fisik dan psikis yang khas, sehingga merupakan insan yang unik, individu yang sedang berkembang, individu yang membutuhkan bimbingan individual dan perlakuan manusiawi, individu yang memiliki kemampuan untuk mandiri.

4)      Faktor isi materi/materi pendidikan
Yang merupakan isi materi adalah segala sesuatu oleh pendidik langsung diberikan kepada peserta didik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan. Dalam sistem pendidikan persekolahan,materi telah diramu dalam kurikulum yang akan disajikan sebagai sarana pencapaian tujuan. Materi ini meliputi materiinti maupun muata lokal.

5)      Faktor metode pendidikan
peristiwa pendidikan ditandai dengan adanya interaksi edukatif. Agar interaksi ini dapat berlangsung secara efektif dan efisien dalam mencapai tujuan, maka disamping dibutuhkan pemilihan bahan/materi pendidikan yang tepat perlu dipilih metode yang tepat pula.metode adalah cara yang didalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai tujuan.

6)      Faktor situasi lingkungan
Situasi lingkungan mempengaruhi proses dan hasil pendidikan. Situasi lingkungan ini melipui lingkungan fisis, lingkungan teknis dan lingkungan sosio-kultural. Dalam hal-hal dimana situasi lingkungan berpengaruh secara negatif, maka lingkungan ini membatasi pendidikan.

C.    Masalah Pendidikan
Pendidikan mempunyai tugas menyiapkan sumberdaya manusia untuk pembangunan.dalam langkah pembangunan selalu diupayakan seirama dengan tuntutan zaman. Perkembangan zaman selalu memunculkan tantangan-tantangan baru, yang sebagaimana tidak dapat diramalakan sebelumnya.sebagai kosekuensi pendidikan selalu dihadapkan pada masalah-masalah baru masalah pokok pendidikan yaitu:
a.       Masalah pemerataan pendidikan
b.      Masalah mutu pendidikan
c.       Masalah efisiensi pendidikan
d.      Masalah relevasi pendidikan.

D.    Pendidikan Di Indonesia
Pendidikan di indonesia telah ada sejak indonesia belum merdeka pada saat zaman Hindu-Buddha berkembang. Namun pendidikan tersebut belum membawa banyak pengaruh terhadap perkembangan. Sebelum indonesia merdeka dan setelah indonesia merdeka banyak melahirkan tokoh pendidik yang berperan dalam pendidikan di Indonesia. Pendidikan nasional yang bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa diseleggaraka secara terpadu dan di arahkan pada penigkatan kualitas pendidikan dasar serta jumlah dan kualitas pendidikan kejuruan, sehingga memenuhi kebutuhan pembangunan nasional dengan memperhatikan perkebangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pendidikan Dasar memegang peran yang sangat penting dalam penanaman nilai-nilai budi pekerti dan nilai-nilai keagamaan.  Ini terlihat dari setiap kali rumusan tujuan pendidikan nasional di Indonesia senantiasa mengacu pada tertanamnya nilai-nilai budi pekerti dan aspek-aspek rohaniah. Salah satu yang berperan penting dalam proses pendidikan dasar adalah guru agama.

E.     Pendidikan Budhis
Setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dandiajarkan oleh pendidik yang seagama, Pendidikan pada dasarnya bersifat terbuka, tidak ada yang disembunyikan. Buddha menyangkal adanya otoritas segolongan masyarakat tertentu, yakni kasta brahmana, yang memonopoli kewenangan agama dan bersifat diskriminatif. Pandangan egalitarian yang melihat semua orang sederajat ini, membuat Buddha menjalani kehidupan sebagaia masyakat biasa. Membentuk suatu struktur monastic yang dinamakan Sangha, menampung murid dari berbagai golongan masyarakat. Penghargaan terhadap manusia oleh tingakat prestasi, bukan karena status sosial ekonomi dan faktor primordial. sifat misioner agama Buddha bersumber dari amanat Bhagava kepada enam puluh siswa-Nya yang telah menjadi arahat.”para bhikkhu pergilah mengembara demi kebaikan orang banyak, membawa kebahagiaan bagi orang banyak, atas dasar kasih sayang terhadap dunia, untuk kesejahteraan, keselamatan dan kebahagiaanpara dewa dan manusia”(vin. I, 21). Tujuan dalam perspektif agama Budddha tak berbeda dengan tujuan pembabaran Dhamma.
Masalah sentral dalam pandangan Buddha adalah penderitaan ma­nusia. Penderitaan bersumber pada keinginan yang rendah (tanha). Keinginan sendiri timbul tergantung pada faktor lain yang men­da­huluinya. Dalam merumuskan rangkaian sebab musabab yang saling bergantungan (paticcasa­muppada), Buddha menempatkan di urutan pertama kebodohan (avijja). “Yang lebih buruk dari se­mua noda itu adalah kebodohan. Kebodohan merupakan noda yang paling buruk. Para Bhikkhu, singkir­kan noda ini dan jadilah orang yang tak bernoda” (Dhp. 243).
Pendidikan Buddhis mengajarkan Anda bagaimana untuk memahami dan menguasai pikiran Anda, dimana banyak orang melewatkannya. Anak-anak butuh untuk memahami diri mereka sendiri terlebih dulu dan mengetahui bagaimana untuk mengatasi emosi (fluktuasi perasaan) mereka sendiri sebelum mereka dapat memahami orang lain. Semua hal demikian harus ditanamkan ketika mereka muda sedangkan hal-hal akademis dapat dipelajari kemudian di waktu kapan saja. Pengetahuan dasar dalam pendidikan buddhisme adalah ranah etika (kemoralan), pengembangan pengetahuan dasar harus berangkat dari pengendalian diri dengan substansi kemoralan. Proses pembelajaran merupakan bagian yang esensi dari kegiatan pembelajaran yang memiliki kualifikasi terstandar. Peraturan pemeritah nomor 19 tahun 2005 bagian kelima pasal 15 standar proses meliputi (1) Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. (2) Selain ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dalam proses pembelajaran pendidik memberikan keteladanan. (3) Setiap satuan pendidikan melakukan perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran, dan pengawasan proses pembelajaran untuk terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efisien (PPSNP, 2005). Upaya mengaplikasikan sistem pendidikan pada ranah umum dan khususnya sistem pendidikan Buddhis dibutuhkan sistem pembelajaran Buddhis yang integrasi (integrated learning). Keintegrasian dimaksudkan agar peserta didik memiliki kemampuan mengaplikasikan iptek selaras dengan kehidupan spiritual atau agama Buddha.


F.     Kendala pendidikan buddhis
Perkembangan sarana pendidikan formal, agama Buddha masih jauh tertinggal dibandingkan dengan agama lain di Indonesia. Sebenarnya ketertinggalan pendidikan sekolah Buddhis terjadi bukan dikarenakan ketidakmampuan umat Buddha, tetapi lebih kepada belum adanya kesatuan tekad umat Buddha dalam mengembangkan dan membina pendidikan Buddhis di Indonesia. Permasalahan yang dihadapi umat buudha saat ini adalah istitusi pendidikan buddhis yaitu sekolah budhis yang sebagian besar dinilai masyarakat memiliki image yang tidak baik karena dari segi kualitas dapat dikatakan tidak bermutu sebagai sarana pendidikan. Yang menjadi kurang bermutunya pendidikan buddhis adalah:
a.       Kurang menyadari arti kata pendidikan
Sangat disayangkan para pemikir buddhis cendekiawan, pengusaha buddhis para pandita,  dan sangha jarang melihat arti pentingnya pendidikan. Padahal pendidikan sekolah budhis dapat menjadi tempat berkembangnya generasi penerus budhis. Berkembangnya SDM Budhis dan menjadi tempat penenaman moral Buddhis.
b.      Kurangnya sumber daya manusia
Dampak dari kurangnya mutu sebagian sekolah buddhis dan sedikitnya bangunan sekolah buddhis adalah secara perlahan-lahan kita kehilangan SDM yang berkualitas, karena biasanya mereka berpindah agama saat mengikuti pendidikan formal dilingkungan non budhis. Pendidik juga mepengaruhi kemajuan pendidikan agama buddha sendiri.
Dalam dinamika masyarakat yang cepat berkembang menuntut guru untuk belajar terus. Pengetahuan guru   yang sudah usang akan membawa generasi penerus yang statis dimasa mendatang. Oleh karena itu diperlukan program in service training (Dalam layanan pelatihan) dan in service education (Dalam layanan pendidikan) bagi guru-guru. Di samping itu guru pendidikan agama hendaknya dapat memahami materi pembelajaran secara komprehensif. Keteladanan Buddha sebagai guru yang dapat menembus semua unsur dhamma (dharmadhatu) sehingga memudahkannya dalam mengajar. Buddha mengajar ajaran selalu disesuai dengan kemampuan batin para siswa dan penyajian yang  berbeda. Dengan metode penyajian yang berbeda  dan materi yang terpilih membuat para siswa dapat memahami ajaran (pariyatti) dan mempraktekkan (pattipati) dan merasakan hasil dari pelaksanaan ajaran (pativedha).
c.       Kurangnya manajemen operasional
Banyak pengertian  manajemen seperti  dikemukakan oleh Hersey & Blanchard (1995:3) manajemen adalah proses kerja sama dengan dan melalui orang-orang dan kelom­pok untuk mencapai tujuan organisasi. Stone (1996:8) menjelaskan manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasi, pemimpinan, dan pengendalian upaya anggota dan penggunaan semua sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dari segi manajemen operasional, kita memiliki kelemahan, ini dapatdi lihat perkembangan mutu sekolah Buddhis yang tadinya berkualitas kemudian berubah menjadi tidak berkualitas.
d.      Sekolah Buddhis Kurang Dikenal
Kurang dikenalnya sekolah budhis membuat umat buddha menyekolahkan anaknya di sekolah nonbudhis/terdekat/yang dikenalnya.


G.    Kaitan Peerkembagan Agama Buddha Dalam Materi Pendidikan Formal

1.      Mata Pelajaran fisika Dan Budhisme
Mata pelajaran fisika yang terdapat dalam pelajaran formal yang merupakan pelajaran pokok di dalam pendidikan formal ternyata hukum-hukum dalam fisika telah di ajarkan oleh Sang Buddha. hukum-hukum yang umum digunakan dalam fisika seperti hukum dasar fisika tentang kesetaraan energi dan massa. Hukum ini meyatakan bahwa massa bisa di transformasikan menjadi energi dan energi juga bisa di trasnformasikan menjadi massa berdasarkan rumus yang terkenal dari Albert Einstein. Hukum kekekalan massa dan energi dalam fisika yang mengatakan bahwa massa dan energi tidak dapat di ciptakan dan tidak dapat di musnahkan juga terdapat dalam buddhisme. Didalam Avatamsaka sutra bab 14 berbunyi “segala sesuatu tidak dilahirkan/diciptakan, segala sesuatu tidak dapat dimusnahkan (sains modern dan buddhisme,irvan tanipuetra dipl. Ing,karaniya,2003).
 Buddha juga telah mengajarkan mudridnya tentang konsep relativitas ruang, tentang relativitas waktu, interdependensi yang juga dikenal di dalam fisika. Walaupun belum ada fisika pada saat itu.

2.      Mata pelajaran matematika dan budhisme
Kalau kita mempelajari sejarah matematika dan ilmu hitung, maka jelas sekali bahwa kosep ketakterhinggaan ini baru masuk kedalam matematika semenjak abad kedelapan belas, yang selanjutnya mendorong timbulnya ilmu hitung limit dan integral. Para ahli filsafat pada zaman kuno nampaknya menunjukka “ketakutan” atau “keengganan”,“ketakterhinggaan”. Didalam avatamsaica sutra 30,yang berjudul “tak dapat dihitung”, isinya tedapat konsep keakterhinggaan. (sains modern dan buddhisme,irvan tanipuetra dipl. Ing,karaniya,2003).














BAB III

PENUTUP

A.KESIMPULAN
Dapat di sumpulkan bahwa  pendidikan Buddhis di Indonesia sangat berkaitan erat dengan pendidikan formal yang ada di indonesia, bahkan sebulum ada pendidikan formal ternyata Sang Buddha telah mengajarkannya. soal kendala perkembangan pendidikan Buddhis itu karena kurangnya SDM,kurang mengerti arti pendidikan,kurang manajemen oprasional, dan kurangnya di kenal pendidikan Buddhis yang ada.
B. SARAN
Pendidikan Buddhis di Indonesia sangatlah kurang dan banyak kendala-kendala di dalamnya. Maka akan lebih baiknya kita sebagai generasi penerus Agama Buddha harus benar-benar mempelajarinya dan memajukan pendidikan Buddhis yang ada di Indonesia agar tidak bisa maju seperti layaknya pendidikan formal lainnya.